Senin, 07 Desember 2015

Pengembangan Bahan Ajar dengan Model Search, Solve, Create, and Share (SSCS) sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Reflektif Matematis Siswa

oleh : Rini Fajrin

1        Pengembangan Bahan Ajar
1.2        Bahan Ajar
Bahan ajar adalah seperangkat bahan yang disusun secara sistematis yang digunakan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas dalam rangka mencapai standar kompetensi yang ditentukan (Hardianty, 2012)
Menurut Soedjadi (Nugroho, 2011:22) bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu:
1.      Bahan ajar inti merupakan kumpulan fakta-fakta, konsep-konsep, operasi-operasi serta prinsip-prinsip dasar matematika yang penting. Penentuan bahan ajar inti harus berpandu pada tujuan serta bekal siswa yang telah didapatkan terlebih dahulu.
2.      Bahan ajar pengayaan merupakan bahan ajar yang berfungsi meluaskan cakrawala siswa serta lebih memantapkan kemampuannya untuk mengikuti pelajarannya lebih lanjut. Dengan demikian bahan ajar pengayaan ini terdiri atas topic-topik lama dan baru.
Bahan ajar disusun untuk mempermudah guru dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah. Bandono (2009) menyatakan tujuan dan manfaat penyusunan bahan ajar adalah sebagai berikut:
1.      Bahan ajar disusun dengan tujuan:
a.       Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum degan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik.
b.      Membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh.
c.       Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran
2.      Manfaat bagi guru:
a.       Diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.
b.      Tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk diperoleh.
c.       Memperkaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi.
d.      Menambah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar.
e.       Membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru degan peserta didik karena peserta didik akan merasa lebih percaya kepada gurunya.
f.       Menambah angka kredit jika dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.
3.      Manfaat bagi peserta didik:
a.       Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
b.      Kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru.
c.       Mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya.

2.        Model Pembelajaran SSCS
Menurut Baroto (2009), SSCS adalah model pembelajaran yang memakai pendekatan problem solving, didesain untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan meningkatkan kemampuan konsep ilmu. Model ini pertama kali dikembangkan Pizzini pada tahun 1988 pada mata pelajaran sains (IPA). Selanjutnya, Pizzini, et al., sebagaimana dikutip oleh Irwan (2011: 4) menyempurnakan model ini dan mengatakan bahwa model ini tidak hanya berlaku untuk pendidikan sains saja, tetapi juga cocok untuk pendidikan matematika. Pada tahun 2000 Regional Education Laboratories suatu lembaga pada departemen Pendidikan Amerika Serikat (US Departement of Education) mengeluarkan laporan bahwa model pembelajaran SSCS termasuk salah satu model pembelajaran yang memperoleh Grant untuk dikembangkan dan dipakai pada mata pelajaran matematika dan IPA. (Rahmawati, 2013)
Menurut Pizzini, dkk (Irwan, 2011: 5) pada model pembelajaran SSCS terdapat empat langkah penyelesaian masalah yang urutannya dimulai dari menyelidiki masalah (Search), merencanakan pemecahan masalah (Solve), mengkonstruksi pemecahan masalah (Create), dan mengkomunikasikan penyelesaian yang diperoleh (Share). Secara rinci kegiatan yang dilakukan siswa pada keempat fase tersebut disajikan dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1
No
Fase/Tahapan
Keterangan
1.
Search
§  Memahami soal atau kondisi yang diberikan kepada siswa, yang berupa apa yang diketahui, apa yang ditanyakan,
§  Melakukan observasi dan investigasi terhadap kondisi tersebut,
§  Membuat pertanyaan-pertanyaan kecil,
§  Menganalisis informasi yang ada sehingga terbentuk sekumpulan ide.
2.
Solve
§  Menghasilkan dan melaksanakan rencana untuk mencari solusi.
§  Mengembangkan keterampilan berpikir kritis seperti kemampuan untuk memilih apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukan yang terbaik, data apa yang penting, pengukuran akurat harus bagaimana dan mengapa setiap langkah diperlukan dalam proses mereka.
§  Memilih metode untuk memecahkan masalah.
§  Mengumpulkan data dan menganalisis.
3.
Create
§  Menciptakan produk yang berupa solusi masalah berdasarkan dugaan yang telah dipilih pada fase sebelumnya.
§  Menguji dugaan yang dibuat apakah benar atau salah.
§  Menggambarkan hasil dan kesimpulan mereka sekreatif mungkin dan jika perlu siswa dapat menggunakan grafik, poster, atau model.
4.
Share
§  Berkomunikasi dengan guru, teman sekelompok serta kelompok lain atas solusi masalah. Siswa dapat menggunakan media rekaman, video, poster, dan laporan.
§  Mengartikulasikan pemikiran mereka, menerima umpan balik, dan mengevaluasi solusi.

Peranan guru dalam model pembelajaran SSCS adalah memfasilitasi pengalaman untuk menambah pengetahuan siswa (Pizzini sebagaimana dikutip oleh Ramson, 2010: 8). Peranan guru lebih lengkap pada tiap fase disajikan dalam Tabel 2.2 sebagai berikut.
Tabel 2.2
No
Fase
Kegiatan yang dilakukan
1.
Search (Mendefinisikan Masalah)
§  Menciptakan situasi yang dapat mempermudah munculnya pertanyaan.
§  Menciptakan dan mengarahkan kegiatan.
§  Membantu dalam pengelompokan dan penjelasan permasalahan yang muncul.

2.
Solve (Mendesain Solusi)
§  Menciptakan situasi yang menantang bagi siswa untuk berfikir.
§  Membantu siswa mengaitkan pengalaman yang sedang dikembangkan dengan ide, pendapat, atau gagasan siswa tersebut.
§  Memfasilitasi siswa dalam hal memperoleh informasi dan data.

3.
Create (Mengkontruksi Pemecahan Masalah)
§  Mendiskusikan kemungkinan penetapan audien dan audiensi.
§  Menyediakan ketentuan dalam analisis data dan teknik penayangannya.
§  Menyediakan ketentuan dalam menyiapkan presentasi.

4.
Share (Mengkomunikasikan penyelesaian yang diperoleh)
§  Menciptakan terjadinya interaksi antara kelompok/diskusi kelas.
§  Membantu mengembangkan metode atau cara-cara dalam mengevaluasi hasil penemuan studi selama presentasi, baik secara lisan maupun tulisan.


Adapun keunggulan model pembelajaran SSCS dengan menggunakan pendekatan problem solving menurut Pizzini (Ramson, 2010:17) yaitu:
Tabel 2.3
Bagi Guru
Bagi Siswa
1.      Dapat melayani siswa yang lebih luas.
2.      Dapat melibatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran.
3.      Melibatkan semua siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.
4.      Meningkatkan pemahaman antara sains teknologi dan masyarakat dengan memfokuskan pada masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.
1.      Kesempatan memperoleh pengalaman langsung pada proses pemecahan masalah.
2.      Kesempatan untuk mempelajari dan memantapkan konsep-konsep dengan cara yang lebih bermakna
3.      Mengolah informasi.
4.      Menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
5.      Memberi kesempatan pada siswa untk bertanggung jawab terhadap proses pembelajarannta.
6.      Bekerja sama dengan orang lain.
7.      Menetapkan pengetahuan tentang grafik, pengolahan data, menyampaikan ide dalam bahasa yang baik dan keterampilan yang lainnya.

3.        Kemampuan Berpikir Reflektif Matematis
Berpikir reflektif adalah kegiatan yang aktif, tidak pasif, dan perlu usaha. (De Walle, 2006). Menurut Rahman (2013: 15) pada awalnya konsep berpikir reflektif (reflective thinking) diperkenalkan oleh John Dewey pada tahun 1911 dalam bukunya “How We Think”, sebuah karya yang dirancang bagi para guru. Dewey beranggapan bahwa ilmu akan bertabah hanya apabila seseorang telah melalui proses berpikir reflektif.
Skemp (Suharna, 2012) menyatakan bahwa proses berpikir reflektif (reflective thinking) dapat digambarkan sebagai berikut: (a) informasi atau data yang digunakan untuk merespon, berasal dari dalam diri (internal), (b) bisa menjelaskan apa yang telah dilakukan, (c) menyadari kesalahan dan memperbaikinya, dan (d) mengkomunikasikan ide dengan simbol atau gambar bukan dengan objek langsung.
Terdapat empat tahapan dalam proses berpikir reflektif menurut Lenng dan Kember berdasarkan Mezirow’s theorical framework (Suharna, 2012) yaitu:
1.      Habitual Action (Tindakan Biasa). Habitual Action didefinisikan ‘… a mechanical and automatic activity that is performed with little conscious thought’, yaitu kegiatan yang dilakukan dengan sedikit pemikiran yang sengaja.
2.      Understanding (Pemahaman). Pemahaman yaitu siswa belajar memahami situasi yang terjadi tanpa menghubungkannya dengan situasi lain.
3.      Reflection (Refleksi). Refleksi yaitu aktif terus-menerus, gigih, dan mempertimbangkan dengan saksama tentang segala sesuatu yang dipercaya kebenarannya yang berkisar pada kesadaran siswa.
4.      Critical Thinking (Berpikir Kritis ). Berpikir kritis merupakan tingkatan tertinggi dari proses berpikir reflektif yang melibatkan bahwa siswa lebih mengetahui mengapa ia merasakan berbagai hal. Memutuskan dan memecahkan penyelesaian.
Selanjutnya Dewey (Choy, 2001) mengungkapkan tiga sumber asli yang wajib untuk berpikir reflektif yaitu:
1.      Curiosity (keingintahuan)
Curiosity ini lebih kepada cara-cara siswa merespon masalah. Curiosity merupakan keingintahuan akan penjelasan fenomena-fenomena yang memerlukan jawaban fakta secara jelas serta keinginan untuk mencari jawaban sendiri terhadap persoalan yang diangkat.
2.      Suggestion (Saran)
Saran merupakan ide-ide yang dirancang oleh siswa akibat pengalamannya. Saran haruslah beraneka ragam (agar siswa mempunyai pilihan yang banyak dan luas) serta mendalam (agar siswa dapat memahami inti masalahnya).
3.      Ordeliness (keteraturan)
Siswa harus mampu merangkum ide-idenya untuk membentuk satu kesatuan yang selaras ke arah kesimpulan.
Berdasarkan kajian teori yang telah dilakukan, indikator kemampuan berpikir reflektif matematis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengidentifikasi masalah;
2.      Membatasi dan merumuskan masalah;
3.      Mengajukan beberapa kemungkinan alternatif solusi pemecahan masalah;
4.      Mengembangkan ide untuk memecahkan masalah dengan cara mengumpulkan data;
5.      Menguji solusi untuk membuat kesimpulan.


DAFTAR PUSTAKA

Bandono. (2009). Pengembangan bahan ajar. [Online]. Tersedia: http://bandono.web.id/2009/04/02/pengembangan-bahan-ajar.php. (13 April 2015)
Baroto, Gogol. (2009). Pengaruh model pembelajaran PBL (problem based learning) dan model pembelajaran SSCS (search, solve, create, and share) ditinjau dari kreativitas dan intelegensi siswa. Tesis pada PPs Universitas Sebelas Maret. Surakarta: Tidak diterbitkan.
Choy, N. K. (2001). Pemikiran reflektif oleh Dewey. [Online]. Tersedia di: http://www.teachersrock.net/dewey%20pemikiran%20refleksi.html. (13 April 2015)
De Walle, John A van. (2008). Matematika sekolah dasar dan menengah (pengembangan pengajaran). Jakarta: Erlangga.
Firmansari, Haifa. (2011).  Pengaruh penerapan model pembelajaran SSCS (search, solve, create, and share) terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis pada siswa SMP dalam matematika. Skripsi UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.
Hardianty, Hanny. (2012). Pengembangan model bahan ajar strategi pembelajaran konflik kognitif (cognitive conflict) untuk meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa SMP. Skripsi UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.
Irwan. (2011). Pengaruh pendekatan problem posing model SSCS (search, solve, create, and share) dalam upaya meningkatkan kemampuan penalaran matematika. Disertasi pada PPs UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.
Nindiasari, H. (2011). Pengembangan bahan ajar dan instrumen untuk meningkatkan berpikir reflektif matematis berbasis pendekatan metakognitif pada siswa SMA. Makalah pada Seminar Nasional Matematika UNY. Yogyakarta: Tidak diterbitkan.
Noer, H. S. (2010). Peningkatan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan reflektif (K2R) matematis siswa SMP melalui pembelajaran berbasis masalah. Disertasi pada PPs UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.
Nugroho, Masayuki. (2011). Pengembangan bahan ajar yang berbasis aktivitas kritis pada pokok bahasan peluang. Skripsi UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.
Nurdin, A. (2012). Pengertian kemampuan berpikir reflektif matematis. [Online]. Tersedia di: http://www.ahmatnurdin.com/pengertian-kemampuan-berpikir-reflektif-matematis.html. (23 Februari 2015)
Rahman, Sidiq Aulia. (2013). Peningkatan kemampuan pemecahan masalah, kemampuan berpikir reflektif matematis, dan adversity quotient siswa SMP dengan pendidikan open ended. Disertasi pada PPs UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.
Rahmawati, Nurlaili Tri. (2013). Keefektifan model pembelajaran search, solve, create, and share (SSCS) berbantuan kartu masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa kelas VIII. Skripsi UNNES. Semarang: Tidak diterbitkan.
Ramson. (2010). Model pembelajaran SSCS (search, solve, create, and share) untuk meningkatkan pemahaman konsep berpikir kritis siswa SMP pada topic cahaya. Tesis pada PPs UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.
Rohyani, Annisa. (2014). Pengaruh pembelajaran dengan pendekatan scientific terhadap peningkatan kemampuan berpikir reflektif matematis siswa. Skripsi UPI: Tidak diterbitkan.
Suharna, Hery. (2012). Berpikir reflektif (reflective thinking ) siswa SD berkemampuan matematika tinggi dalam pemahaman masalah pecahan. Makalah pada Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNY. Yogyakarta: Tidak diterbitkan.
Suryadi, D. (2005). Penggunaan pendekatan pembelajaran tidak langsung serta pendekatan gabungan langsung dan tidak langsung dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir matematik tingkat tinggi siswa SLTP. Disertasi pada PPs UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.